Pulang ke Malang

Setelah perjalanan panjang, dalam niat mereka mencerahkan haru di kota milik singa. Setelah melewati nuansa maksud indah yang pulang ke Malang.

Tak perlu waktu lama, tanpa sempat memuja pada bintang seperti biasa, dia mengatupkan mata. Kembali ia buka dengan tatapan tanpa tebakan.

Volume sedang sepasang Sound Speaker 6 inch dengan mega bass, kerlipan lampu LED lampu CPU dengan merk asing, lampu kamar yang masih terang benderang. Tempelan-tempelan stick note puisi tak terpublikasikan, serta kaligrafi buatan tangan dengan barang bekas.

Tenang, ini masih pukul 02.00 dini hari.

Kepalanya bertumpu pada lutut kiri, 3/4 cangkir seduhan kopi, mati rasa dalam waktu jejak-jejak lelah orang beradu nasib di jalanan.

Dengan segala hormat, mari bercerita tentang prioritas tanpa mengabaikan malam.

Sebab ini adalah teruntuk mereka yang mempertanyakan prioritas. Untuk mereka yang dengan mudahnya menjawab “sebab kami jauh”.

Untuk mereka yang melupa pada janji, yang katanya “semuanya telah berubah”, “kenyataannya tak seperti yang kita bayangkan”, atau “aku menjadi sadar bahwa aku bukanlah PRIORITAS”.

Seolah lupa pada lagu resah yang pernah setiap insan nyanyikan di luar jendela kamarnya. Yang seperti dikira, waktu itu dapat benar-benar menyentuh. Tatap matanya yang kaget ketika membuka jendela, atau kedua tangan yang menutupi senyum dan hidungnya sebagai gestur syok dan bahagia.

Terkadang mereka tak tau, bagaimana harusnya dia menulis puisi. Atau bagaimana dia mengetik pada layar handphone terbaru.

Jika dihitung, berapakali dia diterbangkan? Serta berapa kali dia dilemparkan? Antara masih terjaga dan menyakiti sama sekali tanpa beda. Dia tak buta, namun dia sang pendiam.

Diantara mulut dan hati, jika hanya akan mendatangkan pertengkaran, apa dia masih harus bicara? Sedang di dalamnya sana, perban tlah terlalu tebal untuk kembali ditambah balutannya.

Seolah ia memohon namun tak di dengar. Dia sudah mencoba tak peduli pada seberapa tebal perban di sana. Dia hanya ingin sebisanya segera membuktikan jika dia tak diam saja sebagai prioritas.

Namun mengapa dengan mudahnya segala yang tajam ditikamkan? Apa sudah tak bernyawa?

Jangan sejahat itu, jangan matikan hati untuk yang mungkin tak pasti. Kita naif, kita hina, namun kita merdeka.

Dan sejenak menderu pada bingkisan malam, kalian sedang menjual diri pada kelayakan dan kepastian. Memikirkan mereka membuat dia berdosa pada tangis pelacur.

Kudapan yang kau dapat pada setiap jalan bukan menjadi sebuah jawaban. Bukan juga sebagai sebuah rujukan.

Setiap syair intonasi rima yang bersenggama dengan pita suara, membuat bendungan tanya dari sungai segala resah.

Para pecinta seharusnya kian mengerti. Baha setiap yang puisi tak selalu memiliki jiwa, tak selalu indah pada dasarnya. Bungapun sempat layu. Haripun bersedia mendung.

Dalam nuansa romansa, sedetik tak pernah berlalu sebagai luka. Dan dalam masa luka, romansa menyuplai nadi dengan kenangan.

Hingga manusia yang sebenarnya lupa, hingga yang tak bernyaa tertawa. Dalam luka yang terbuka, sekarung garam tumpah begitu saja layaknya air terjun.

Kenangnya, lukanya, dan segalanya kiranya sudah sempurna. Sebisanya memotret yang tlah lalu, mengikis kesakitan yang berjuang berkuasa. Segala prioritas tlah dijelaskan.

Mari pulang ke kampung halaman bersama Kepanjen Travel.

Hadvals